PROFIL DESA KEDUNGPANDAN
Kondisi Geografis Desa Kedungpandan
Kedungpandan adalah sebuah desa di wilayah Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo memiliki luas wilayah 16.454.316 Ha, yang meliputi tiga dusun yaitu: Limbe, Kedungpandan, dan Tlocor. Desa Kedungpandan secara geografis merupakan kawasan dengan kondisi lahan berupa dataran rendah, tepi pantai atau pesisir, dan kawasan rawa-rawa (tambak). Ditinjau dari ketinggian diatas permukaan laut Desa Kedungpandan brada 3-4 mdpl dengan curah hujan rata-rata 3 mm. Suhu rata-rata harian 25-30 ºC. Iklim Desa Kedungpandan termasuk klasifikasi iklim subtropis karena terletak LU/LS: 23,5º - 40º. Biosfer desa kedungpandan terdiri dari flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) tersebar sesuai kondisi sekitar.
Batas - Batas Wilayah
- Sebelah Utara berbatasan dengan Desa Kupang Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo;
- Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Tambak Kalisogo Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo;
- Sebelah Selatan berbatasan dengan Desa Kedungboto/ Sungai Bangil TAK Kecamatan Beji Kabupaten Pasuruan;
- Sebelah Barat berbatasan dengan Desa Kedungrejo dan Desa Semambung Kecamatan Jabon Kabupaten Sidoarjo.
Sejarah Desa Kedungpandan
Wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Kedungpandan merupakan hutan belantara dan rawa-rawa yang belum berpenghuni. Kawasan tersebut dikenal angker karena dihuni hewan buas dan dipercaya banyak makhluk halus, sehingga tidak ada masyarakat yang berani tinggal di sana.
Suatu hari seorang punggawa dari Kerajaan Majapahit yang juga seorang Demang datang dan menetap di daerah tersebut setelah mendapatkan petunjuk secara lahir dan batin. Beliau bersama para pengikutnya membuka hutan, mengusir hewan buas, serta mengatasi gangguan makhluk halus hingga akhirnya wilayah itu menjadi pemukiman. Pemukiman ini kemudian berkembang menjadi sebuah desa yang dipimpin oleh tokoh masyarakat bernama Mbah Sastro. Atas kesepakatan bersama, wilayah tersebut diberi nama Desa Kedungpandan.
Penduduknya hidup rukun, saling membantu, dan mayoritas bekerja sebagai petani. Tanahnya subur sehingga berbagai tanaman tumbuh dengan baik. Sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan, masyarakat mengadakan berbagai tradisi seperti Ruwat Desa, Tumpengan, Keleman, Barikan, Nduduk Pedemi (gotong royong saat membangun rumah), Ngleboni Omah (syukuran setelah rumah selesai) dan kegiatannya lainnya. Tradisi-tradisi tersebut tidak hanya menjadi ungkapan rasa syukur, tetapi juga sarana mempererat hubungan sosial antarwarga dan masih dilestarikan hingga sekarang.
Pada masa penjajahan Belanda, terjadi perubahan dalam sistem pemerintahan desa. Beberapa dusun di sekitar wilayah Kedungpandan, seperti Dusun Limbe dan Dusun Tlocor, digabung menjadi satu kesatuan wilayah administratif, yaitu Desa Kedungpandan. Penggabungan ini dilatarbelakangi oleh perkembangan jumlah penduduk yang semakin ramai di masing-masing dusun.
Pada masa penjajahan Belanda juga terjadi konflik internal di masyarakat. Sebagian pihak bekerja sama dengan pemerintah kolonial, sementara sebagian lainnya menentang. Salah satu tokoh yang menentang Belanda adalah Mbah Saderi. Karena sikapnya tersebut, ia menjadi target penindasan oleh pihak kolonial. Demi keselamatan dirinya dan masyarakat desa, Mbah Saderi akhirnya meninggalkan Desa Kedungpandan dan melanjutkan perjuangannya dengan menyebarkan agama Islam di wilayah timur Pulau Jawa.
Demikian sejarah singkat Desa Kedungpandan yang menggambarkan perjalanan panjang dari sebuah hutan belantara hingga menjadi desa yang maju, dengan tetap menjaga nilai-nilai budaya, tradisi, dan kebersamaan masyarakatnya.
Desa Kedungpandan telah dipimpin oleh beberapa kepala desa, antara lain:
- Mbah Ikhwan (Alm)
- Mbah Badri (Alm)
- Mbah Sumo Kaselar (Alm)
- Kharisun
- Nur Aeni
- Suparman (Alm)
- Nur Aeni